Masuk

Kamis, 25 Februari 2010

PERANAN MOTOR LEARNING DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK MEMANAH



Abstrak: Defenisi dari motor learning meliputi keterampilan (skill) keterampilan gerak (motor skill), aksi (action) dan pergerakan (movement). Motor learning dideskripsikan sebagai suatu proses pembentukan sistematika kognitif tentang gerak yang kemudian diaplikasikan dalam psikomotor mulai dari tingkat keterampilan gerak yang sederhana ke keterampilan gerak yang kompleks sebagai gambaran fisiologis yang dapat membentuk psikologis untuk mencapai otomatisasi gerak. Keterampilan motorik memanah dapat dibentuk melalui belajar motor learning. Hal ini dikarenakan dalam memanah membutuhkan penghayatan dari setiap gerakan memanah secara kinestetik unstuck mencapai ketepatan. Keterampilan memanah merupakan rangkaian gerakan secara halus yang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor-faktor ini akan terpatri dengan komponen biomotor ability dalam mencapai prestasi dalam cabang panahan. Untuk itu dibutuhkan pemahaman dari para pelatih maupun atlet tentang peranan motor learning, agar tujuan yang ditetapkan dalam proses pelatihan dalam hal ini keterampilan memanah dapat tercapai.



Belajar merupakan suatu proses yang dapat mendorong terhadap tumbuhnya suatu perubahan, baik perubahan sebagai hasil dari pengalaman maupun latihan. Perubahan yang dimaksud bukan pertumbuhan dan perkembangan melainkan perubahan penampilan keterampilan yang bertalian dengan kecakapan keterampilan dan kecakapan persepsi. Dalam cabang olahraga panahan, pelatihan yang teratur mutlak diperlukan untuk mencapai tahap otomatisasi.
Pelatihan merupakan suatu proses yang sistematis,yang dilakukan secara berulang-ulang dengan beban latihan yang ditambah sedikit demi sedikit pada hari-hari berikutnya. Dengan berlatih secara sistematis dalam pengulangan-pengulangan yang konstan, maka akan didaptkan hasil yang baik. Dalam cabang panahan pengulangan teknik dasar sangat diperlukan, sehingga gerakan gerakan yang diperlukan tetap stabil, (tidak berubah). Panahan menuntut teknik yang tetap mulai dari gerakan menembakan anak panah yang pertama dan panah selanjutnya
Pada dasarnya olahraga panahan merupakan cabang olahraga yang membutuhkan sentuhan jiwa yang halus, kesabaran, keuletan dan ketahanan mental. Selain itu, ada unsur-unsur yang mendasar dan mutlak dimiliki oleh setiap pemanah yaitu: bentuk dan struktur tubuh, teknik dasar, mekanisme gerak, kondisi fisik dan kebugaran mental, karena unsur-unsur tersebut saling melengkapi satu sama lain untuk mencapai otomatisasi dalam keterampilan memanah.
Untuk mencapai keterampilan memanah yang baik sudah tentu melalui pelatihan, dan dalam pelatihan tersebut membutuhkan pengetahuan tentang gerakan-gerakan dalam memanah yang kesemuanya itu dapat dikaji melalui motor learning.

A. Pengertian Motor Learning
Motor learning berasal dari bahasa inggris yang terdiri dari dua kata, yakni: motor dan learning. Motor artinya gerak dan Learning adalah belajar. Jadi secara harafiah motor learning adalah belajar gerak, yang selanjutnya akan dipakai pengertian tersebut dalam penulisan ini. Namun para ilmuan olahraga dalam menjelaskannya tidak hanya pada pengertian kata saja tetapi dijelaskan tentang maknanya.
Menurut Richard (2001:3) motor learning dibagi menjadi empat yaitu skill, motor skill, action, and movement. Namun dalam klasifikasi itu dapat dicermati keterampilan yang baik dapat terbentuk karena ada gerakan yang terampil, dan gerakan yang terampil dapat terjadi karena ada aksi, aksi ini timbul karena ada pergerakan. Keempat factor ini dapat terbentuk disebabkan oleh aktivitas fisiologos manusia yang meliputi alat-alat gerak tubuhyang terdiri dari otot sebagai penggerak aktif, tulang sebagai penggerak pasif dan saraf sebagai pengatur gerak.
Menurut Schmidt (1988: 346) Motor Learning adalah serangkaian proses internal berkaitan dengan praktek atau pengalaman yang akan membentuk perubahan permanent relative terhadap kemampuan untuk merespons. Selanjutnya, Poole (1991: 45) Motor Learning adalah hanya mengajar nauromuscular sistem untuk melaksanakan suatu tugas yang spesifik dengan pertunjukan yang dapat direproduksi secara konsisten. Jadi pengertian motor learning ini beraneka ragam, dan berdasarkan pendapat para ahli diatas dapatlah dirumuskan motor learning yang diartikan dalam bahasa Indonesia yaitu belajar gerak adalah: suatu proses pembentukan sistematika kognitif tentang gerak yang kemudian diaplikasikan dalam psikomotor mulai dari tingkat keterampilan gerak yang sederhana ke keterampilan gerak yang kompleks sebagai gambaran fisiologis yang dapat membentuk psikologis untuk mencapai otomatisasi gerak.

B. Belajar Gerak
Dalam berlatih, seorang pemanah membutuhkan beberapa kali tembakan untuk menguasai keterampilan motorik dalam teknik memanah. Untuk memudahkan atlet panahan dalam menguasai teknik memanah, maka pelatih dan atlet harus mempelajari motor learning (belajar gerak). Dengan mempelajari gerak dengan benar akan memudahkan atlet dalam melaksanakan tugas geraknya, sebab dalam belajar gerak meliputi empat klasifikasi yakni: keterampilan (skill), keterampilan gerak (motor skill), aksi (action), pergerakan (movement). Seperti yang dikemukakan oleh Richard (2001: 3) bahwa:
Skill: (a) an action or task that has a specific goals to achieve, (b) an indicator of quality of performance.
Motor Skill: a skill that requires a voluntary body and/or limb movement to achieves its goals.
Action: a goal-directed activity that consist of body and/or limb movement.
Movement: behavioral characteristics of specific limb or combination of limbs that are component parts of an action or motor skill.
Dalam gerak memanah, pembagian atau klasifikasi gerak diatas dapat dipahami sebagai berikut:
Skill panahan meliputi tujuh fase, yakni:
1. Posisi berdiri
2. Memasang anak panah
3. Menarik tali busur
4. Menjangkar
5. Membidik
6. Melepaskan anak penah
7. Gerakan lanjutan, (ketujuh keterampilan ini merupakan pemahaman bersifat kognisi).
Motor skill meliputi tujuh fase di atas yang diperagakan oleh pelatih diawal pelatihan sebagai contoh yang akan ditirukan oleh atlet.
Action: Atlet mencoba melakukan gerakan-gerakan diatas dengan mengunakan metode bertahap atas pemahaman melihat peragaan pelatih sebagai informan.
Movement: Atlet merangkaikan gerakan-gerakan dalam bentuk keterampilan memanah (otomatisasi gerakan memanah).
Proses belajar gerak berbentu kegiatan mengamati gerakan dan kemudian mencoba menirukan berulang-ulang, dan menerapkan pola-pola gerak tertentu pada situasi tertentu yang dihadapi, dan juga dalam bentuk menciptakan pola-pola gerak baru untuk tujuan-tujuan tertentu. Dalam belajar gerak, karena atlet harus memahami gerakan untuk mampu melakukannya, maka selain unsur fisik disitu juga terlibat unsur fikir. Unsur emosi dan perasaan juga terlibat dalam belajar gerak, karena emosi dan perasaan merupakan unsur psikis yang merupakan daya penggerak dalam berprilaku. Seseorang akan melakukan gerakan tertentu apabila mempunyai kemauan untuk bergerak dan merasa perlu untuk melakukan gerakan. Dalam melakukan suatu gerakan apabila ia tahu atau mengerti gerak apa yang harus dilakukan, dan gerakan tertentu itu akan terwujud apabila ia memiliki cukup kemampuan untuk bergerak.
Dalam belajar gerak, dapat kita temui rana gerak yang merupakan terjemahan dari kata “domain” yang diartikan baagian atau unsure gerak. Gerak tubuh merupakan salah satu kemampuan manusia untuk melaksanakan hidupnya. Gerak tubuh manusia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam. Anita J. Harrow (dalam Sugianto, 1993: 3) membedakan gerak tubuh menjadi 6 klasisifikasi yang merupakan satu kesatuan yang membentuk gerak tubuh manusia, mulai dari yang bersifat bawaan sejak lahir sampai tarafnya yang paling tinggi yaitu:
1. Gerak Refleks
Gerak refleks adalah respons gerak atau aksi yang terjadi tanpa kemauan sadar yang ditimbulkan oleh suatu stimulus. Gerak refleks dilakukan secara spontan tanpa difikir terlebih dahulu. Gerak refleks ini bersifat prerekuisit terhadap perkembangan kemampuan gerak tubuh yang bertaraf lebih tinggi. Bersifat prerekuisit artinya bahwa tanpa memiliki kemampuan gerak refleks, maka kemampuan gerak tubuh tidak akan berkembang dengan baik. Misalnya memiliki gerak refleks untuk ketegakkan tubuh (refleks postural) memberikan kemungkinan berkembangnya kemampuan berjalan, berlari, meloncat, dan sebagainya.

2. Gerak Dasar Fundamental
Gerak dasar fundamental adalah gerakan-gerakan dasar yang perkembangannya terjadi sejalan dengan pertumbuhan tubuh dan tingkat kematangan pada anak-anak. Gerak dasar fundamental mulai dapat dilakukan oleh seseorang sebagian pada masa bayi dan sebagian pada masa kanak-kanak, dan gerak ini akan disempurnakan pada masa sesudahnya melalui proses berlatih atau gerakan dilakukan berulang-ulang. Gerak dasar fundamental dapat dibagi menjadi tiga kelompok:
1. Gerak lokomotor adalah gerak berpindah dari satu tempat ketempat yang lain, misalnya: merangkak, berjalan,berlari dan meloncat.
2. Gerak non-lokomotor adalah gerak yang berporos pada sumbu persendian tubuh tertentu,misalnya: menekuk lengan, menekuk kaki, membungkuk, memilin togok.
3. Gerak manipulatif adalah gerak manipulasi atau memainkan objek tertentu menggunakan tangan, kaki, atau bagian tubuh lain misalnya: menggiring bola, melempar sasaran, menarik beban.

3. Kemampuan Perseptual
Kemampuan perseptual adalah kemampuan untuk menginterpretasi stimulus yang ditangkap oleh panca indra. Menggunakan kemampuan perceptual ini seseorang bias mengerti apa yang terjadi disekitarnya. Misalnya: seseorang yang sedang bermain bola, bila ada bola yang mendekat maka setelah matanya memandang bola tersebut maka ia sadar dan mengerti ada bola yang datang kearahnya. Seseorang pelari yang telinganya menangkap suara dari pemberi aba-aba maka ia menjadi sadar dan mengerti bahwa bahwa ia telah diberi aba-aba untuk mulai berlari. Kemampuan perceptual yang ada hubungannya dengan gerak ini, ada lima macam yakni:
1. Pembedaan gerak ( Kinestetik) adalah kemampuan untuk menginterpretasi rasa posisi dan gerak tubuk pada saat seseorang membentuk posisi atau menggerakkan bagian tubuh tertentu, ia akan bias merasakan gerak tubuh yang dilakukannya. Dari yang dirasakan itu ia bias membedakan berbagai macam posisi atau gerak tubuh. Indra kinestetik berada pada sendi dan tendon.
2. Pembedaan penglihatan (Visual) adalah kemampuan menginterpretasi stimulus yang ditangkap oleh mata untuk mengerti tentang apa yang dilihat. Kemampuan ini berguna dalam olahraga yang menggunakan objek yang yang harus dilihat, misalnya: olahraga yang menggunakan bola, dengan menggunakan kemampuan pembeda visual, pemain bola bias mengetahuibahwa ada bola yang dating, kemana arahnya, seberapa kecepatannya, dan sebagainya. Dengan demikian memungkinkan bagi pemain untuk mengantisipasi dengan gerakan yang bagaimana agar bias memainkan bola tersebut.
3. Pembedaan pendengaran (Auditory) adalah kemampuan untuk menginterpetasi stimulus yang ditangkap oleh telinga untuk mengerti tentang apa yang didengar. Kemampuan ini berguna dalam olahraga yang menggunakan isyarat-isyarat suara, misalnya bunyai aba-aba dengan menggunakan peluit, suara dari wasit/juri atau suara yang ditimbulkan lawan.
4. Pembedaan Peraba (Taktil) adalah kemampuan untuk menginterpretasi stimulus yang ditangkap oleh indra peraba untuk mengerti tentang sesuatu yang diraba atau menyentuh kulitnya. Kemampuan ini berguna dalam olahraga yang menggunakan objek yang harus dimanipulasikan, misalnya: dalam bermain bola, pemain harus mengetahui keras lunaknya bola yang digunakan.
5. Kemampuan koordinasi adalah kemampuan yang memadukan persepsi atau pengertian yang diperoleh dalam penginterpretasian stimulus oleh beberapa kemampuan perceptual kedalam suatu pola gerak tertentu, misalnya: pada saat pemain sepak bola sedang menggiring bola dan dikejar oleh lawan, ia mengkordinasikan persepsinya mengenai rasa gerakan menggiring, penglihatanya terhadap bola, menjaga bola dari lawan yang berada dibelakangnya yang diketahui dari suara atau langkah dalan berlari mendekatnya, dan rasa sentuk kaki pada bola. Kemampuan seperti tersebut dipadukan dalam kemampuan menggiring bola.
2. Kemampuan Fisik
Kemampuan fisik adalah kemampuan yang mengguanakan organ-organ tubuh dalam melakukan aktivitas gerak tubuh. Kemampuan fisik sangat diperlukan dalam mendukung aktivitas gerak tubuh. Gerakan yang terampil bias dilakukan apabila kemampuan fisik cukup memadai. Secara garis besar kemampuan fisik bisa dibedakan menjadi 4 macam, yang merupakan dasar dalam pemahaman tentang fisik. Ke empat unsure fisik yang mendasar itu meliputi:
a. Ketahanan (Endurance)
Ketahana atau sering disebut Daya Tahan fisik adalah kemampuan untuk melakukan aktivitas dalam jangka waktu yang lama. Keemampuan ini merupakan perwujudan dari kemampuan organ-organ tubuh yang memenuhi kebutuhan dengan menggunakan oksigen sehingga memungkinkan tubuh melakukan aktivitas fisik secara terus menerus tanpa istirahat, serta kemampuan untuk membuang dan menghambat bertambahnya konsentrasi asam laktat dalam tubuh. Daya tahan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: pertama, daya tahan otot local adalah kapasitas sekelompok otot untuk berkontraksi atau bekerja berulang-ulanh dalam waktu yang lama. Kemampuan ini diperlukan misalnya dalam melakukan squat jump sebanyak-banyaknya. Kedua, daya tahan otot fungsional adalah kemampuan kerja jantung, paru-paru, hati, ginjal, lambung, usus, yang merupakan otot halus secara intensif dalam waktu yang lama. Kemampuan ini dibutuhkan bagi pelari jarak jauh.
b. Kekuatan (Strength)
Kekuatan adalah kemampuan menggunakan otot untuk menahan atau melawan beban. Kekuatan merupakan jumlah maksimum daya atau tenaga yang yang dikerakan oleh sekelompok otot dalam melawan beban atau tahan. Kemampuan ini diperlukan pada saat menarik barbell atau menarik tali busur.
c. Kelenturan (Fleksibility)
Kelenturan adalah keluwesan gerak pesendian. Keluwesan gerak persendian dipengaruhi oleh bentuk tulang yang membentuk persendian dan elastisitas otot-otot yang menghubungkan persendian. Fleksibilitas sangat diperlukan pada olahraga yang banyak melakukan liukan-liukan tubuh, misalnya pada senam dan gulat.
4. Kecepatan (Speed)
Kecepatan adalah kemampuan bergerak dari satu tempat ketempat lain dalam waktu yang singkat. Unsur-unsur dari kecepatan adalah kemampuan memulai dan berhenti melakukan gerakan dengan cepat, bergerak dengan cepat dengan tingkat Reaction, acceleration, maximum velocity, and finishing yang tinggi dalam waktu yang singkat. Kemampuan fisik ini diperlukan dalam berbagai macam cabang olahraga yang memerlukan kecepatan, misalnya: nomor lari cepat.

5. Gerak Keterampilan
Gerak keterampilan adalah gerak yang mengikuti pola atau gerak tertentu yang memerlukan koordinasi dan control sebagian atau seluruh tubuh yang bisa dilakukan melalui proses belajar. Gerak keterampilan bisa dibedakan menjadi tiga macam, yakni:
1. Keterampilan adaptif sederhana adalah keterampilan yang dihasilkan dari penyesuaian gerak dasar fundamental dengan situasi atau kondisi tertentu pada saat melakukan gerakan. Misalnnya, berlari meliwati bermacam-macam rintangan.
2. Keterampilan adaptif terpadu adalah keterampilan yang dihasilkan dari perpaduan antara gerak dasar fundamentaldengan menggunakan perlengkapan atau alat tertentu. Misalnya, memukul bola menggunakan reket.
3. Keeterampilan adaptif kompleks adalah keterampilan yang memerlukan penguasaan berbentuk gerakan dan koordinasi tubuh yang kompleks. Misalnya, menyemes bola.

6. Komunikasi Non-Diskursif
Komunikasi non-diskursif adalah komunikasi melalui gerak tubuh. Gerak tubuh yang bersifat komunikatif bisa dibedakan menjadi:
1. Gerak ekspresif adalah gerak yang bertujuan mengkomunikasikan suatu pesan. Misalnya, gerak menggelengkan kepala untuk menyatakan tidak setuju.
2. Gerak interperatif merupakan gerak tubuh yang menampilkan keindahan dan mengandung makna tertentu. Gerak yang menampilkan keindahan disebut gerak estetik, sedangkan gerak yang menampilkan makna tertentu disebut gerak interperatif. Contoh gerak interperatif adalah gerak tari balet. Gerak tari balet mengandung nilai estetik sekaligus mengandung makna tertentu yang ingin disampaikan melalui penampilan gerak. Gerak interperatif merupakan klasifikasi gerak yang paling tinggi tarafnya seperti seorang penari balet yang menguasai keterampilan geraknya dulu baru kemudian bisa melakukan dengan indah dan penuh penjiwaan makna gerakan.
Oleh karena itu seorang pelatih dalam melatih teknik atletnya perlu memahami keterampilan gerak itu terlebih dulu sebelum ia menunjukan atau meragakan teknik tersebut. Tujuannya adalah agar pada saat atletnya melihat peragaannya, akan membuat konsep kognitif anak sebelum ia menirukannya. Tertkait dengan focus penulisan ini, yakni tentang panahan, makna keterampilan gerak ini sangat memegang peranan penting sebab didalam keterampilan memanah membutuhkan penguasaan gerak dalam teknik memanah serta penjiwaan terhadap tahap-tahap memanah yang wujutnya merupakan suatu seni gerak yang indah.

C. Hakikat Keterampilan Memanah
Telah dijelaskan diatas, mempelajari gerak dengan benar akan membentuk keterampilan gerak yang baik pula. Untuk memudahkan atlet dalam memahami keterampilan gerak memanah, terlebih dahulu atlet diberikan pemahaman tentang apa itu keteram-ilan gerak (motor learning).

1. Pengertian Keterampilan Gerak
Keterampilan Gerak adalah kemampuan untuk melakukan gerak yang efisien dan efektidf. Keterampilan gerak merupakan perwujudan dari kualitas koordinasi dan control atas bagian-bagian tubuh yang terlihat dalam gerakan. Semakin kompleks keterampilan gerak yang harus dilakukan, makin kompleks juga koordinasi dan control tubuh yang harus dilakukan, dan ini berarti makin sulit juga untuk dilakukan. Keterampilan gerak diperoleh melalui proses belajar yaitu dengan cara memahami yang dilakuka secara berulang-ulang yang disertai dengan kesadaran fakir akan kebenaran atau tidaknya gerakan yang sudah dilakukan. Untuk mencapai tingkat keterampilan tertentu, lamanya waktu tiap-tiap individu berbeda-beda, ada yang hanya memerlukan waktu singkat dan ada yang memerlukan waktu yang cukup lama walaupun prosedur dan intensitas belajarnya sama. Hal ini disebabkan oleh factor bakat, karena setiap individu memiliki bakat yang berbeda-beda, ada yang memiliki bakat olahraga dan ada yang tidak. Individu yang berbakat olahraga akan mampu menguasai keterampilan gerak dalam waktu yang singkat.

2. Klasifikasi Keterampilan Gerak
Keterampilan gerak dapat dikaji berdasarkan karakteristik pada pola-pola gerak tertentu. Dengan pengklasifikasian itu, pelatih olahraga bisa menggunakannya untuk mempermudah manganalisis gerak yang dilatihkan kepada atlet. Keterampilan gerak bisa diklasifikasikan berdasarkan beberapa sudut pandang, Yaitu:
1. Klasifikasi berdasarkan kecermatan gerakan
Berdasarkan kecermatannya keterampilan gerak dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: (1). Keterampilan gerak agal (gross motor skill) adalah keterampilan gerak yang melibatkan otot-otot besar sebagai penggerak utama, misalnya: Gerakan meloncat dengan posisi tungkai lurus, gerakan ini bertumpuh pada bola kaki dengan tumpuan kontraksi otot yang dominan adalah otot tibialis anterior dan gastrocnemius (secara dinamis). (2). Keterampilan gerak halus (fine motor skill) adalah Keterampilan gerak yang melibatkan otot-otot halus sebagai otot-otot penggerak utama misalnya: keterampilan menarik pelatik senapan,menarik tali busur, membutuhkan kemampuan dalam mengatur pernafasan agar sasaran itu dapat tercapai. Otot halus yang dimaksutkan disini adalah otot cardiovasculare-respiratory.
2. Klasifikasi berdasarkan pembedaan titik awal dan akhir gerakan
Dari sudut pandang bisa ditandai pada bagian mana merupakan awal gerakan dan pada bagian mana merupakan akhir dari pada gerakan. Hal ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu: (1). Keterampilan diskret adalah keterampilan gerak yang dengan mudah ditandai awal dan akhir dari gerakan, contohnya: gerakan menggulig ke depan sekali saja dalam senam lantai. (2). Keterampilan gerak serial adalah keterampilan gerak diskret yang dilakukan berulang-ulang secaraterus menerus, contohnya: mengguling kedepan beberapa kali. (3). Keterampilan kontinyu adalah keterampilan gerak yang tidak mudah ditandai titik awal dan akhir gerakan, contoh pada gerakan permainan tenis, dalam bermain tennis pemain bergerak dalam berbagai macam pola gerak yang harus dilakukan terus menerus sesuai dengan keadaan bola. Pada cabang panahan, gerakannya termasuk klasifikasi gerak diskret.
3. Klasifikasi berdasarkan stabilitas lingkungan
Berdasarkan stabilitas lingkungan, keterampilan gerak bisa dibedakan menjadi 2 macam yaitu:
(1). Keterampilan tertutup adalah keterampilan gerak yang dilakukan dalam kondisi lingkungan yang tidak berubah-ubah dan gerakannya dilakukan semata-mata karena stimulus dari dalam diri pelaku sendiri tanpa dipengaruhi stimulus dari luar. Contoh: dalam gerakan senam lantai, disini pelaku memulai gerakan berdasarkan kemauan sendiri, disaat ia merasa sudah siap untuk melakukannya.
(2). Keterampilan gerak terbuka adalah keterampilan gerak yang dilakukan dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah dan gerakannya dilakukan selain karena stimulus dari dalam diri, juga dipengaruhi oleh stimulus dari luar dirinya. Contoh, dalam bermain sepak bola , disini pemain melakukan gerakan-gerakannya yang selain karena kemauan sendiri juga berdasarkan kecepatan pergerakan bola, teman dan lawan, kesemuanya merupakan stimulus yang harus diperhatikan dalam melakukan gerakan.

3. Unsur-Unsur Kemampuan Yang Membentuk Keterampilan Gerak
Belajar dan berlatih yang perlu dilakukan pda dasarnya untuk meningkatkan kualitas fungsi-fungsi yang merupakan unsure-unsur kemampuan yang membentuk keterampilan gerak. Secara garis bersar ada tiga kelompok yang membentuk gerak:

a.Kemampuan fisik
Fisik sebagai fungsi untuk melakukan gerakan, kualitasnya perlu baik agar gerakan bisa terampil. Unsur gerak yang membentuk keterampilan yaitu, kekuatan, ketahanan, kecepatan dan kelincahan, kelenturan, ketajaman indera, dan kecepatan reaksi.
b.Kemampuan mental
Kemampuan mental adalah kemampuan yang memerlukan fungsi fakir. Dalam kemampuan mental termasuk juga kemampuan imajinasi. Unsur-unsur yang termasuk dalam kemampuan mental yaitu, kemampuan memahami gerakan yang akan dilakukan, kecepatan memahami ransangan (stimulus), kecepatan membuat keputusan, kemampuan memahami hubungan jarak,kemampuan menaksir irama,kemampuan mengingat gerakan, kemampuan memahami mekanika gerakan, dan kemampuan berkonsentrasi.

c.Kemamppuan emosional
Kemampuan emosional atau kondisi emosionnal juga berperan penting dalam menghasilkan penampilan gerak yang terampil. Kemampuan emosional yang berpengaruh saat melakukan gerak terhadap kualitas penampilannya meliputi; kemampuan mengendalikan emosi dan perasaan, tidak ada gangguan emosional, merasa perlu dan mau melakukan gerakan, dan bersikap positif terhadap prestasi belajar gerak.
D. Hakikat Keterampilan Memanah
Pada dasarnya olahraga panahan itu gabungan dari olahraga dan seni. Disebut olahraga karena aktivitasnya menggunakan otot-otot, baik otot local maupun otot fungsional yang dilatih untuk membentuk komponen biomotor ability. Disebut seni karena membutuhkan sentuhan jiwa dalam perasaan yang halus, dan ketahanan mental. Webster (1972:8) mengatakan “Panahan merupakan seni keterampilan atau olahraga menembakkan anak panah dengan busur”. “Panahan merupakan olahraga untuk semua umur dan semua jenis serta sangat menarik, dapat dilakukan sendiri maupun bersama-sama. Seperti yang dikemukakan oleh Julian wilsmith (1972:5), olahraga panahan dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan, anak-anak dan penderita cacat, orang yang terampil dan terlatih maupun tidak terlatih karena semua orang akan memperoleh kepuasan dengan memanah. Panahan telah lama dikenal sebagai olahraga individu maupun keluarga”
Berdasarkan pendekatan biomekanika olahraga panahan termasuk dalam klasifikasi melontarkan objek untuk mencapai ketepatan maksimum. Nana Kosasih (1987: 26) dalam disertasinya dalam olahraga panahan, mengemukakan factor-faktor yang mendorong timbulnya ketepatan yaitu “ada 4 faktor yang mendorong timbulnya ketepatan; pertama, ketepatan diperoleh dari postur tubuh; kedua, pemanasan mendorong terjadinya ketepatan; ketiga, penyesuaian komponen keterampilan untuk memperoleh ketepatan gerakan; keempat, gerakan sederhana menimbulkan ketepatan”. Dalam olahraga panahan setiap pemanah harus menguasai teknik dasar memanah dengan baik. Rahantoknam(1987: 41) dalam disertasinya mengemukakan teknik dasar memanah meliputi: (1) posisi berdiri; (2) mesang anak panah; (3) menarik tali busur; (4) menjangkar; (5) menahan dan membidik; (6) melepaskan; (7) gerakan lanjutan.

E. Kajian Kemampuan Perseptual dan Kemampuan Fisik dalam Teknik Dasar Memanah
Tujuh langkah tindakan yang merupakan teknik dasar keterampilan memanah ini didasarkan atas konsepsi-konsepsi ruang (space), daya/tenaga (force) dan kecermatan (precision).
Mekanisme gerak yang teratur, terarah dan terencana serta mempunyai tahapan yang tetap pada pembentukan posture tubuh yang baik sebagai satu bangunan yang konstruktif akan memberikan kekuatan dan kenyamanan fisik, baik pada saat menarik beban, mengangkat beban dan menahan beban. Terjadinya langkah yang teratur akan mengurangi sekecil mungkin penyimpangan lintasan anak panah. Kondisi fisik merupakan hal yang paling penting bagi seorang atlet. Pada cabang olahraga panahan, kondisi fisik seorang pemanahsangat menunjang untuk dapat melaksanakan latihan teknik yang baik.melihat sifat dariolhraga panahan, maka factor kekuatan memegang peranan yang lebih penting dari pada factor lainnya. Seidel (1975: 89-90) mengataakan bahwa panahan adalah suatu kegiatan yang memerlukan kekuatan dan dapat dilakukan semua orang. Berdasarkan pemetaan komponen fisik dan pemetaan anggota tubuh yang dominan pada panahan maka komponen fisik dan tubuh yang digunakan dalam panahan meliputi kekuatan dan daya tahan otot bahu, daya tahan dan kekuatan otot punggung, kekuatan dan daya tahan otot dada, dan kekuatan daya tahan otot lengan (Harsono,1988: 204).
Pokok bahasan motor learning sangat banyak, tetapi gajian yang dijelaskan dalam makalah ini difokuskan pada dua klasifikasi gerak tubuh manusia yang disesuaikan dengan karakteristik cabang panahan, tentunya tidak terlepas dari klasifikasi gerak yang lain.kedua klasifikasi gerak yang akan dikaji adalah kemampuan perceptual dan kemampuan fisik. Berdasarkan pendapat di atas dapat dipeoleh pengertian pada cabang panahan, kekuatan dan daya tahan memegang peranan penting disbanding dengan komponen fisik yang lain, dan dari segi pemetaan tubuh otot bahu, otot punggung, otot dada, dan otot lengan yang lebih dominant disbanding dengan anggota tubuh yang lain.tetapi pada dasarnya baik unsure fisik maupun anggota tubuh saling menunjang satu sama lain.untuk memperjelas pernyataan diatas, baiknya kita mengkaji peranannya didalam ketrampilan memanah yang di mulai dari:

1. Posisi Berdiri
kemampuan perceptual yang dominant adalah pembedaan kinestetik dimana pembedaan ini akan memberikan informasi tentang posisi telapak kaki sebagai pemberi informasi tentang bagaimana permukaan tanah (rata atau bergelombang) telapak kaki depan yang tinggi atau telapak kaki belakang. Hal ini berkaitan dengan penempatan fisir untuk membidik. Jika permukaan tanah pada telapak kaki depan tinggi atau telapak kaki bagi penarik tali busur dengan tangan kanan permukaan tanahnya tinggi maka fisir harus diturunkan, dan sebaliknya juka permukaan tanah pada kaki kanan tinggoi bagi penarik tali busur dengan tangan kanan maka fisirnya harus dinaikan. Kajian kemampuan fisik yang dominant pada posisi berdiri. Pada posisi berdiri kemampuan fisik yang harus dibentuk adalah kekuatan dan daya tahan, mengingat sumbangan dari kekuatan dan daya tahan tungkai dalam memberikan dukungan bagi tegapnya tubuh dalam melakukan mekanik memanah. Lagi pula pada waktu perlombaan berlangsung dari pagi jam 8.30 sampai jam 16.30wib (sesuai dengan kondisi, banyaknya peserta).

2. Memasang Anak Panah
Pada langkah ke dua ini, kajian kemampuan perceptual hanya berpusat pada perbedaan visual dimana pemanah harus teliti memasang anak panah dalam posisi:
1. Noknya tepat pada pembatas yang telah ditentukan pada tali busur sebagai penyangga nok.
2. Posisi sayap anak panah atau bulu anak panah harus berada pada posisi 2 : 1 dalam arti dua sayap menghadap kedalam dan satu sayap menghadap keluar.
3. Batang atau badan anak panah berada tepat diatas sandaran anak panah (erroris).

3. Menarik Tali Busur
Pada langkah ketiga ini kajian perceptual meliputi pembedaan kinestetik dan pembedaan taktil. Pada lengan yang memegang busur, peranan pembedaan taktil sangat dominant, dimana pembedaan ini memberikan informasi tentang kedudukan posisi tangan yakni lekukan jari telunjuk dan ibu jari berada sempurnah pada daerah pegangan atau tidak, sebab dari penempatan pegangan yang benar dapat memberi dukungan pada lengan yang menarik tali busur terutama kontraksi otot pada lengan penarik, dan juga dari pegangan yang benar juga dapat memberi ketepatan dalam penempatan fisir. Pada lengan yang menarik, peranan kemampuan kinestetik sangat penting untuk mengetahui konstraksi otot pada lengan penarik, dan juga dari pegangan yang benar juga dapat memberi ketepatan dalam penempataan fisir.
Pada lengan yang menari, peranan kemampuan kinestetik sangat penting untuk mengetahui konstraksi otot yang dominan untuk menarik tali busur dalam keadaan benar atau tidak. Otot-otot untuk menarik adalah otot trapezius, otot deltoid, otot paktoralis major, dan otot lengan. Jika otot-otot ini tidak berperan secara menyeluruh, dan ada bantuan oleh otot lengan bawah, maka akan merubah kedudukan dan konstraksi pada otot trapezius yang mengakibatkan rasa sakit pada tendon otot itu. Hal ini dapat diketahui pada pembedaan kinestetik jika ini terjadi maka akan mempengaruhi daya tahan kekuatan dlm membidik, rasa nyaman dlm menjangkarpun tdk merasa nyaman, yang ada akhirnya ketepatan tdk diperoleh. Oleh karena itu, gerakan menarik sebaiknya diulangi, jangan dilanjutkan.
Dalam langkah ketiga ini, kajian kemampuan fisik yang dominan adalah kekuatan dlm kontraksi isometric untuk lengan yang memegang busur dan isotonic untuk lengan yang menarik tali busur.

4. Menjangkar
Pada langkah keempat ini merupakan lanjutan dari langkah ketiga, dimana kajian kemampuan perceptual yang dominan adalah pembedaan taktil dan kinestetik. Hanya pada saat menjangkar ini selalu dikombinasikan dengan perasaan dan juga terjadi peralihan kemampuan fisik (kekuatan ke daya tahan kekuatan). Apabila pada saat menjangkar terjadi rasa tidak nyaman, sebagai informasi pembedaan kinestetik maka secara langsung akan mempengaruhi daya tahan kekuatan dari otot travesius, deltoid, paktoralis major sehingga membuat lengan akan gemetar akibat stressor pada tendon travesius yang dapat mempengaruhi bidikan sehingga ketepatanpun akan terpengaruh. Jika hal ini terjadi, maka sebaiknya diulangi gerakan menarik sampai menjangkar.

5. Membidik
Pada langkah membidik, kajian kemampuan perceptual yang dominant adalah pembedaan visual. Dalam membidik membutuhkan ketajaman penglihatan dari mata yang dominant sesuai dengan jarak yang dilombakan, dan juga penglihatan terhadap isyarat lampu sebagai pengatur tembakan anak panah sesuai waktu yang ditentukan dan membutuhkan ketajaman penglihatan terhadap kantong angina sebagai pemberi informasi tentang keadaan angina sebelum melepaskan anak panah.

6. Melepaskan Anak Panah
Pada langkah ini merupakan lanjutan dari langkah ke lima, hanya pada fase ini peranan kemampuan perceptual adalah pembedaan kinestetik, dimana pembedaan kinestetik ini berada pada seputar ruas-ruas jari tangan yang digunakan untuk menarik tali busur. Jadi dalam melepaskkan anak panah membutuhkan kemampuan kinestetik dalam merasakan posisi jari-jari tangan untuk memindahkan ketegangan menahan tali busur ke gerakan meluruskan jari penarik dengan tidak menimbulkan sentakan pada tali busur, agar dapat memberikan lontaran dengan lurus, sehingga anak panah dapat terlontar dalam jalur atau arus panah yang tepat. Sedangkan kemampuan fisik terfokus pada daya tahan kekuatan isometric untuk otot lengan, bahu, punggung, dan dada sampai tertancapnya anak panah, dan ini berhubungan langsung dengan langkah ke tuju sebagai gerakan lanjutan. Jadi dalam rangkaian teknik dasar memanah, peranan kemampuan fisik dan kemampuan perceptual memegang peranan penting dan didukung oleh unsur-unsur gerak yang lain sebagai satu kesatuan dalam gerak tubuh manusia lebih kusus pada atlet panahan.

7. Gerakan Lanjutan
Gerakan lanjutan merupakan rangkaian gerakan terakhir dari teknik memanah, dimana atlet tersebut harus mempertahankan posisi kedua lengan tetap berada diatas sampai anak panah tertancap pada target fice, karena posisi tersebut juga turut mempengaruhi jalannya anak panah menuju target fice. Latihan kondissi fisik bagi seorang pemanah sebaiknya ditekankan pada otot-otot yang di pergunakan langsung untuk menahan dan membidik. Kekuatan mempunyai pengaruh tertentu pada keterampilan motorik individu. Singer dan Dick (1980: 59) mengatakan bahwa keberhasilan menampilkan motorik bergantung pada sifat bangunan individu, dan yang sebenarnya kemampuan kekuatan merupakan komponen utama ketrampilan.

F. Hakikat Belajar Keterampilan Motorik
Pada saat sekarang ini prestasi olahraga masih terus diciptakan dan ditingkatkan. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka diperlukan adanya pendekatan ilmiah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pembinaan.Telah disadari bahwa untuk meningkatkan prestasi diperlukan konsep-konsep dan teori-teori dalam belajar motorik sebagai pedoman dengan menentukan metode melatih dalam usaha meningkatkan prestasi. Bower dan Hilgard (1981: 11) mengatakan bahwa belajar sebagai perobahan perilaku yang potensial terhadap situasi tertentu yang diperoleh dari pengalaman yang dilakukan berulang kali.
Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan tentang keterampilan motorik, Oxendine (1984: 20) mendefenisikan penekanan utama pada efisiensi. Schimidt (1988: 17) menyatakan bahwa keterampilan merupakan gerakan-gerakan yang tergantung kepada latihan dan pengalaman karena pelaksanaannya itu tidak ditentukan oleh keturunan. Singer (1980: 59) mendefenisikan keterampilan motorik sebagai gerakan tubuh untuk mensukseskan pelaksanaan aktiffitas yang diinginkan selanjutnya, Cecco dan Crawford (1974: 252) menjelaskan keterampilan motorik adalah suatu respons motorik berangkai yang melibatkan koordinasi gerakan untuk menjadi pola respons yang lebih kompleks. Definisi oeperasional, keterampilan motorik bermanfaat untuk mengerti dan memahami keseluruhan kegiatan belajar yang utuh dalam bentuk gerakan yang lebih luas.

G. Hakikat Tahap-Tahap Belajar Keterampilan Motorik
B.E. Rahantoknam (1987: 241-272) menjelaskan tahap-tahap belajar suatu keterampilan meliputi:
1. Format Rencana
Tahap formasi rencana ini sebagai fase awal dalam belajar keterampilan. Pada tahap ini siswa dan atlet harus memahami hakikat dan tujuan daru keterampilan tersebut. Siswa harus berusahan memformulasikan dan melaksanakan rencana pelaksanaan atau rencana motorik dalam batas kemampuan dan keterbatasan mekanisme reseptor dan persepsi. Pembentukan rencana pelaksanaan ini siswa atau atlet akan memperoleh gambaran yang luas tentang tujuan dari keterampilan tersebut dan harus memahami rangkaian dari komponen-komponen gerakan. Biasanya demonstrasi digunakan membentuk siswa dan atlet dalam memahami tujuan dari keterampilan tersebut selain menjelaskan tindakan atau tugas tersebut.jadi pelatih dapat menggunakan audio, visual dan persepsi dalam awal ini. Tahap awal belajat, pemula harus memahami rangkaian gerakan yang sebenarnya serta dapat memformulasikan rencana gerakan sendiri, sesuai dengan kecakapan untuk melakukan gerakan tersebut. Fase pertama belajar keterampilan memahami rencana dapat diselesaikan dengan berfariasi, sesuai dengan sifat dan karakteristik dari tugas yang akan dipelajari. Tujuan dari fase ini adalah agar siswa dan atlet mengerti yang akan dilaksanakan dan apa yang akan ia lakukan.


2. Tahap Latihan
Dalam belajar fase ke dua ini, siswa dan atlet harus mempraktekkan dengan baik dan sungguh-sungguh, dengan meletakan penekanan pada pola sementara dari kegiatan. Demonstrasi pada fase kedua ini akan membantu siswa dan atlet untuk menguasai pola sementara dari gerakan yang terampil, serta disajikan untuk menunjukan dan mengoreksi kesalahn yanh telah dilakukan. Balikan merupakan faktor yang penting dalam session-sesion latihan. Dalam fase kedua ini siswa dan atlet harus beruasaha untuk menguasai pola gerakan sementara dari sub kebiasaan dan hal ini akan tergantung pada balikan yang dapat membentuk mereka dalam menyempurnakan tugas ini.

3. Pelaksanaan Otomatisasi
Fase ketiga dari belajar tahap ini, pelatih telah mencapai rangkaian gerakan melalui latihan yang sungguh-sungguh dan sekarang melakukan seluruh pola gerakan secara otomatis dengan hasil yang cukup memuaskan.

H. Penutup
Dalam implementasinya pelatih, guru olahraga, atlet, manajer harus memperhatikan pada tahap persiapan khusus, pra-kompetisi dan kompetisi diharapkan dapat memahami peranan motor learning dalam menunjang teknik dasar, baik untuk membetulkan, meningkatkan dan mengembangkan segala teknik ketaraf otomatisasi gerak sehingga menampakkan keterampilan gerak yang baik untuk mencapai prestasi yang optimal. Diharapkan dalam menyusun jadwal pelatihan pada tiap siklus mikro harus ada jadwal untuk teori dalam membentuk dan mengembangkan kognisi atlet atau siswa sejalan dengan tuntutan cabang olahraga tersebut. Dalam proses pembentukan dan pengembangan kognisi, atlet/siswa diharapkan dapat mengikutinya dan dapat membangun interaksi untuk memperbaiki dan melengkapi atlet/siswa dalam latihan-latihan selanjutnya. Diharapkan para manajer dapat memperhatikan kebutuhan yang dituntut dalam cabang olahraga yani ia tangani agar dapat menunjang penampilan atlet untuk meraih prestasi yang diinginkan, sebagai hasil feedback dari pengkajian motor learning.



I. Daftar Pustaka

Bower, G.H, and Hilgord. E.R, 1984. Theories of Learning, Prentice Hall, Inc Jersey.

De Cocco.J.P, and Crawford.W.R. 1974. The Psycology of Learning and Instruction, Englewood Cliffs Inc.

Kosasih Nana, 1987. Metode Belajar Keseluruhan Bagian dan Bagian Keseluruhan Terhadap Prestasi Belajar Panahan Bagi Mahasiswa Yang Mempunyai Kekuatan Otot Punggung dan Ketepatan Membidik Berbeda, IKIP Jakarta. Jakarta.

Oxidine.J.B. 1980. Psycology of Motor Learning, Prentice Hall, Inc. New York.
Rahantoknam, B.E. 1983. Pengaruh Metode Penyajian Informasi Balikan Dan Tingkat Intelegensi Terhadap Prestasi Belajar Motorik, IKIP Jakarta. Jakarta.
Saidel. Beverly. L. 1975. Sport Skill: A Conceptual Approach to Meaningful Movement, WM.C. Brown Company Publishers, Duduque.

Singer. Robert. N, and Dick Wolter, 1980. Teaching Physical Education, Houngton Miffiln Company. Boston.

Schimid.R.A. 1988. Motor Control and Learning Behavioral Emphasis, Human Kinetics Publihers. Illionis.

Webster.M. 1972. Webster’s Sport Dictionary, C and C Merian C.P, Springfield. Massachusetts.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar